Senin, 31 Januari 2011

Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs (Iman Kepada Rasul)

BAB I

PENDAHULUAN


Orang yang mengaku beriman kepada Allah maka harus pula mempercayai rasul-rasul Allah dalam arti tidak hanya mengakui keberadaan mereka, tetapi juga mematuhi segala ajaran yang mereka sampaikan. Selain itu percaya kepada Rasulullah juga harus disertai dengan mencontoh kehidupan mereka sebagaimana Rasulullah menegaskan bahwa keberadaannya di muka bumi adalah untuk menyempurnakan ahlak yang mulia. Tingkah laku dan tutur kata rasulullah mengandung ajaran yang sangat berhargadalam setiap masalah kehidupan manusia, dari kehidupan yang sangat sederhana sebagai seorang penggembala kambing sampai kehidupannya sebagai pemimpin umat dan seorang negarawan.

Tingkah laku dan tutur kata Rasulullah yang demikian baik itu telah direkam secara utuh oleh para peneliti hadits dari zaman dahulu hingga sekarang, dan kemudian ditetapkan sebagai salah satu sumber ajaran Islam.

Ajaran Rasulullah tersebut dipegang teguh oleh umat Islam dan terus menerus diajarkan oleh suatu generasi kegenerasi lain melalui kegiatan ceramah, pengajian, sampai dengan pengajaran dimulai dari tingkat yang paling rendah dari taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Namun seiring berkembangnya zaman maka berkembang pulalah cara berfikir manusia dan terkadang perkembangan tersebut adakalanya menuju kepada kesesatan sehingga akhir-akhir ini muncul nabi-nabi palsu dan sebagainya. Hal itu disebabkan karena lemahnya keimanan mereka dan sudah menjadi kewajiban kita semua untuk meluruskan kembali keimanan saudara-saudara kita yang seiman sehingga kembali kepada jalan yang diridhoi Allah SWT.


BAB II
IMAN KEPADA PARA RASUL ALLAH


A. Pengertian Iman Kepada Rasul Allah
Menurut bahasa nabi berarti juru berita, sedeangkan menurut syara' nabi adalah insan uhiaya ilaihi bisyar'in wala yu'maru bitablighihi artinya "manusia yang diwahyukan syariat kepadanya dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan (kepada umat manusia). Adapun Rasul menurut bahasa artinya utusan atau yang diutus, sedangkan menurut syara' Rasul adalah insane uhia ilaihi bisyar'in wayu'maru bitablighihi Yaitu manusia yang diwahyukan syari'at kepadanya dan diperintahkan untuk menyampaikannya (kepada umat manusia).
Nabi dan Rasul adalah manusia dari kelompok laki-laki. Mengapa laki-laki yang dijadikan Rasul ? Itu semua merupakan hak proregatif Allah. Allah berfirman,
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلاّ رِجَالاً نُّوْحِيْ اِلَيْهِمْ مِنْ اَهْلِ الْقُرى
Artinya : Kami tidak mengutus sebelum kamu melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya diantara penduduk negeri (QS. Yusuf, 12: 109)
Diutusnya para nabi dan Rasul merupakan salah satu rahmat atau kasih sayang Tuhan kepada manusia yang disamping memiliki kelebihan juga memiliki kelemahan. Itulah sebabnya tidak heran jika ada sebagian aliran teologi seperti mu'tazilah berpendapat bahwa Allah itu wajib mengirim utusan, sebagai manifestasi kasih saying-Nya kepada umat manusia. Allah berfirman
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ اِلاََّ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Artinya : Tidak lah Kami utus engkau (Muhammad) kecuali membawa rahmat bagi seluruh umat manusia (QS. AL-Anbiya; 21 : 107)
Rahmat yang dibawa oleh para nabi dan Rasul itu merupakan ajaran yang bernilai luhur, dan baru tersa apabila diamalkan oleh manusia sebagai pengikutnya. Ajaran tersebut terkadang dalam bentuk peringatan dan terkadang dalam bentuk kabar gembira. Firman Allah SWT.
يَااَيُّهَا النَّبِيُّ اِنَّا اَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَّمُبضشِّرًا وَّنَذِيْرًا
Artinya : Hai Nabi, sesungguhnya Aku mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan (QS. Al-Ahzab 33:45)
رُسُلاً مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلاَّ يَكُوْنَ لِّلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
Artinya : (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan-alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An-Nisa, 4 : 165)
Dalam sejarah tercatat bahwa kehadiran nabi dan Rasul biasanya dalam suasana masyarakat yang sudah jauh menyimpang dari kebenaran , berbuat dzalim, maksiat dan kemungkaran . Oleh karena itu masyarakat yang demikian seringkali tidak menerima keberadaan nabi dan Rasul itu bahkan mereka melawan dan memusuhinya bahkan berusaha membunuhnya.
ذَالِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاَيَاتِ اللهِ وَيَقْتُلُوْنَ الأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَالِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُ يَعْتَدُوْنَ
Artinya : Yang demikian itu (ditimpakan kehinaan) karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar . yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali Imran, 3: 112)
Dengan demikian tugas kenabian dan kerasulan adalah tugas yang sangat berat dan penuh resiko. Diantara nabi-nabi yang terkenal sangat tabah dan sangat kuat kemauan mereka dikenal dengan istilah Ulul azmi yaitu : Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad SAW.Kata Al-Azm berarti tabah dan taguh sehingga ulul azmi ialah nabi-nabi dan Rasul yang mempunyai keteguhan dan kesabaran yang luar biasa. Allah swt berfirman
فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ اُوُْلُوا الْعَزْمِ مِنَ الرُسُلِ
Artinya : Oleh karena itu Bersabarlah engkau, hai Muhammad sebagaimana Rasul-rasul ulul azmi (Al-Ahqof :35)
Sebagian ulama mengatakan bahwa ulul azmi adalah semua Rasul. Imam Mujahid berkata Rasul ulul Azmi ada lima Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Nabi Muhammad saw. Nama-nama mereka telah ditetapkan dalam Al-Qur'an surat Al-Ahhzab ayat 7 yang berbunyi
وَاِذْ اَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّنَ مِيْثَاقُهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوْحٍ وَاِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَعِيْسَى ابْن مَرْيَمَ وَاَخَذْنَا مِنْهُم مِيْثَاقًا غَلِيْظًا
Artinya : Ingatlah hai Muhammad, perjanjian yang diambil bagi para nabi : dari kamu, dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isaanak Maryam. Aku telah mengambil perjanjian yang kuat dari mereka. (QS. Al-Ahzab :7)
Kelima orang nabi tersebut bertanya tentang tugas apa yang mereka kerjakan. Sudah menjadi adapt dan kebiasaan manusia jika seorang raja mengutus seorang utusan untuk melaksanakan suatu tugas, dan utusannya tersebut menerimanya, maka saat itulah terjadi perjanjian (kontrak). Kalau utusan itu menanyakan tentang apa yang akan mereka katakan, hal itu berarti mengokohkan janji sehingga menjadi janji yang kuat atau bahasa arabnya mitsaq ghalidz. Dengan demikian Risalah kenabian itu menjadi pasti tidak berkurang dan bertambah.
Tugas kenabian setelah Rasulullah saw wafat dilanjutkan oleh para ulama. Nabi bersabda :
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الأنْبِيَاءِ
Artinya : Ulama itu adalah pewaris para nabi (H.R Tabrani)
Adapun yang dimaksud beriman kepada Rasul adalah bahwa kita meyakini seyakin-yakinnya bahwa Rasul itu benar-benar utusan Tuhan, diikuti dengan mengikuti segala yang diperintahkannya dan menjauhi segala larangannya dengan tulus dan ikhlas.
Selain itu beriman kepada Rasul juga harus disertai dengan pengetahuan tentang siapa rasul itu, apa tugas-tugasnya, bagaimana sifat-sifatnya baik yang wajib, jaiz, dan mustahil baginya. Dengan pengetahuan yang demikian itu keimanan yang dumilikinya akan bertambah kuat dan mantapsehingga tidak mudah digoyahkan. Beriman kepada rasul selanjutnya menjadi salah satu dari rukun iman yang enam. Hal ini didasarkan pada firman Allahswt.
يَااَيُّهَا الّذِيْنَ امَنُوْا بِاللهِ وَالرَّوْلِهِ وَالْكِتَابِ اَلّذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلِهِ وَالكِتَابِ الّذِيْ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman tetap lah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Alah turunkan kepada rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelum-Nya. (QS. Annisa, 4 :136)
وَلَقَدء بَعَثْنَا فِى كُلِّ اُمَةٍ رَسُوْلاً اَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَ اجْتَنِبُوْا الطَّاغُوْتَ
Artinya : Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):"sembahlah Allah(saja)dan jauhilah Thaghut. (QS. Al-Nahl 16:36)
يَااَيُّهَا الّذِيْنَ اَمَنُوْا اَطِيْعُ اللهَ وَاَطِيْعُوا الرسُوْل وَاُوْلىِ الأمْرِ مِنْكُمْ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya dan ulil amri (pemimpin) diantara kamu. (QS. Annisa 4:59)
Beriman kepada rasul juga harus diikuti dengan meneladani akhlaknya mulianya dalam berbagai bidang kehidupan. Dengan cara demikian keimanan kepada rasul itu benar-benar fungsional. Hal ini ditambah dengan kenyataan yang objektif, bahwa pada diri rasul itu terdapat contoh teladan yang baik. Keberhasilan rasul dalam perjuangannya sebagaimana diakui sejarah akan dapat pula dicapai oleh umatnya yang berjuang dalam bidang kehidupan. Jika mengikuti teladan Rasulullah. Firman Allah SWT.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَ الْيَوْمَ الأخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut nama Allah. (QS. Al-Ahzab.33:21)
B. Jumlah Nabi dan Rasul
Kedatangan rasul ditengah-tengah kedatangan manusia sebagaimana telah disebutkan diatas adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Rahmat tersebut terasa jika manusia mengamalkan ajaran yang dibawanya. Karena jumlah manusia banyak dan juga usia para rasul juga terbatas, maka kedatangan rasul tersebut berganti-ganti. Dengan demikian jumlah nabi dan rasul tersebut cukup banyak. Para rasul sebelum nabi Muhammad dikhususkan untuk kaum tertentu saja. Sedangkan nabi Muhammad adalah rasul untuk seluruh kaum. Hal ini dinyatakan dalam Al-Qur'an sebagai berikut :
وَلِكُلِّ اُمَةٍ رَسُوْلٌ
Artinya : Dan tiap-tiap umat mempunyai Rasul. (QS. Yunus, 10 :47)
Adapun kerasulan nabi Muhammad untuk seluruh umat, sebagaimana dinyatakan dalam Qur'an surat Al-Ahzab ayat 45 diatas.
Tugas para rasul itu yang paling utama dalah menegakan ajaran Allah dimuka bumi agar tercipta kedamaian dan mengajak manusia agar tidak terpecah belah atau berpaling dari ajaran yang dibawanya. Allah berfirman .
شَرَعَ لَكُم مِنَ الديْنِ مَا وَصَّى بِهِ نُوْحًا وَ الَّذِيْ اَوْ حَيْنَا اِلَيْكَ وَمَا وَصَّنَا بِهِ اِبْرَاهِيْمَ وَمُوْسَى وَ عِيْسى اَنْ اَقِيْمُوْا الدِّيْنَ وَلا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ
Artinya : Dan telah mensyari'atkan kepada kamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah diwahyukan kepada mud an apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : "Tegakanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya". (QS. As-Syu'ara 42:13)
Selanjutnya tidak ada informasi tentang berapa jumlah nabi dan rasul yang sesungguhnya. Sebagian mengatakan bahwa jumlah nabi lebih banyak dibanding para rasul . Diantaranya ada yang mengatakan bahwa jumlah nabi sebanyak 124.000, sedangkan rasul berjumlah 313 orang. Namun angka-angka tersebut tidak dapat dijadikan pegangan karena tidak didukung oleh data yang kuat. Yang jadi pegangan bagi kita bahwa jumlah nabi dan rasul itu lebih banyak dari jumlah yang disebutkan dalam alqur'an. Hal ini dinyatakan dalam ayat yang berbunyi
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلاً مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ
Artinya : Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu . Diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu. (QS. Al-Mu'minun, 40 :78)
Dari jumlah nabi dan Rasul yang demikian banyak itu yang dapat diketahui berdasarkan informasi Al-Qur'an adalah sebanyak 25 orang, Yaitu : Adam, Idris, Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, Luth, Isma'il, Ishak, Ya'kub, Yusuf,Ayub, Syu'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Nabi Muhammad saw.
C. Perbedaan Nabi dan Rasul
Rasul menurut Istialah adalah laki-laki merdeka pilihan yang diberitahu oleh Allah tentang agama dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahuinya atau orang yang menyalahinya. Adapun nabi menurut istilah adalah Laki-laki ilihan yang merdeka yang diberitahu oleh Allah tentang syare'at yang lalu yang diajarkan oleh para pemiliknya yang ada disekitarnya.
Rasul dan nabi disebut pilihan artinya keturunan atau nasab mereka dipih dari kalangan orang-orang yang paling sempurna akalnya, paling suci jiwanya, dan paling mulia akhlaknya. Karena mereka harus sanggup melaksanakan tugas-tugas besar yang menuntut sikap-sikap itu. Tugas-tugas itu seperti menerima wahyu, menerakannya, menyampaikannya dan membimbing umat untuk mengikutinya.
Dari pengertian diatas kita dapat menimpulkan bahwa aspek perbedaan antara nabi dan rasul yaitu sebagai berikut :
a. Kenabian merupakan syarat kerasulan. Seseorang tidak menjadi Rasul kalau bukan seorang nabi. Jadi istilah rasul lebih khusus daripada istilah nabi. Setiap rasul adalah nabi tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.
b. Rasul membawa risalah kepada orang-orang yang belum tahu tentang agama dan undang-undang Allah. Sedangkan nabi diutus untuk berdakwah kepada agama nabi sebelumnya.
D. Macam-macam Sifat Rasul
Sifat artinya ciri, identitas atau tanda yang melekat pada segala sesuatu yang disifati , baik benda bernyawa ataupun tidak bernyawa. Sifat berfungsi sebagai pembeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Sifat-sifat Rasulullah maksudnya adalah sifat-sifat yang ada pada rasul sebagai pembeda dengan yang bukan rasul. Sifat ini selanjutnya ditunjukan oleh rasulullah dalam ucapan dan perbuatannya dan berfungsi selain menjadi daya tarik dalam rangka mensukseskan dakwahnya juga agar dijadikan contoh bagi para pengikutnya.
Secara garis besar sifat-sifat yang wajib bagi para rasul itu ada empat yaitu shidiq, amanah , tabligh dan fathanah selengkapnya adalah sebagai berikut :
1. Shidiq
Menurut bahasa shidiq artinya benar, yakni apa yang diucapkan dan diperbuatnya merupakan keadaan yang sesungguhnya, bukan dibuat-buat. Rasul wajib memiliki sifat shidiq karena sifat ini menyebabkan apa yang diucapkan dan diperbuatnya tersebut dapat dipercaya dan diterima oelh umatnya. Keadaan rasul yang bersifat demikian itu dalam al-qur'an dijelaskan.
هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَانُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ
Artinya : Yang kamu lihat ini adalah sesuatu yang dijanjikan Tuhan yang Rahman dan benarlah rasul-rasul yang menyampaikan janji dan ancaman Tuhan itu. (QS. Yasin ayat 52)
2. Amanah
Amanah artinya terpercaya yaitu keadaan dimana seseorang dapat melaksanakan segala tugas yang diamanatkan sesuai dengan yang memberikan amanat tersebut tanpa mengurangi atau menambah sedikitpun. Sifat amanah ini wajib dimiliki oleh para rasul karena sangat mendukung keberhasilan tugas-tugasnya sebagai pembawa misi ajaran agama yang diberikan oleh Allah. Keadaan rasul yang demikian itu dinyatakan dalam firman Allah
اِذْ قَالَ لَهُمْ اَخُوْهُمْ نُوْحٌ اَلاَ تَتَّقُوْنَ اِنِّيْ لَكُمْ رَسُوْلٌ اَمِيْنٌ
Artinya : Ketika saudara mereka, Nuh berkatakepada mereka : "Mengapa kamu tidak bertakwa ?" Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan yang diutus kepadamu ". (QS. Asy-Syua'ra 26 :106-107)
3. Tabligh
Tabligh berasal dari bahasa arab yang artinya menyampaikan, yakni menyampaikan sesuatu dari yang mengamanatkan kepada yang seharusnya menerima amanat. Tidak ada yang disembunyikan oleh para rasul tentang apa yang harus disampaikannya itu.
Sifat tabligh ini wajib dimiliki para rasul karena tugas dan peranan mereka yang terpenting adalah menyampaikan risalah yang diterimanya kepada umat manusia hal ini sejalan dengan firman Allah SWT.
فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَمَا اَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمِ حَفِيْظًا اِنْ عَلَيْكَ اِلَى بَلاَغُ
Artinya : Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan. (QS. As-Syu'ara 42 :48)
وَمَا عَلَيْنَا اِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ
Artinya : Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan perintah Allah dengan jelas. (QS. Yasin 36:17)
4. Fathanah
Fathanah artinya cerdas, cerdik atau jenius. Dengan sifat ini Rasulullah dapat menerima pesan dari Allah secara baikdan menjabarkannya dengan kehidupan yang lebih bersifat operasional. Hal ini sebagaimana yang dilakukan nabu Muhammad terhadap pesan Al-Qur'an melalui haditsnya.
Seorang rasul wajib bersifat fathanah, mengingat peran dan tugasnya yang demikian berat menghendaki kemampuan berfikir konsepsional dan strategis dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapinya . dengan kemampuan berfikir yang tajam seorang rasul akan dapat membaca situasi yang berkembang disekitarnya kemudian menganalisa dan menyimpulkannya dengan cermat. Tanpa memiliki kemampuam seperti ini seorang rasul akan mudah terjebak pada penipuan orang lain.
Kemampuan berfikir yang jenial akan menyebabkan ia dapat mengemukakan argumentasi-argumentasinya yang dapat mematahkan fihak lawan. Alqur'an menegaskan
وَتِلْكَ حُجَّتُنَا اتَيْنَاهُمَا اِبْرَاهِيْمَ عَلَى قَوْمِهِ
Artinya : Dan itulah hujjah yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya (QS.Al-An'am, 6 :83)
Dengan kejeniusan pula Para nabi dapat berkomunikasi dengan baik dengan kaumnya. Ia mampu memilih kata-kata yang dapat dipahami kaumnya. Allah berfirman
وَمَا اَرْسَلْنَا مِنْ رَسُوْلٍ اِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَلَهُمْ
Artinya : Tidaklah Kami utus seorang Rasul melainkan dengan bahasa kaumnya supaya ia dapat memberikan keterangan yang jelas kepada mereka. (QS. Ibrahim 14 :14)
Berkenaan dengan sifat-sifat tersebut para ahli menyebutkan pula tentang sifat-sifat yang tidak sepantasnya ada pada para rasul sifat-sifat tersebut selanjutnya dikategorikan sebagai sifat mustahil bagi rasul, yaitu sifat kidzb (dusta), Khianat (curang), Kitman (menyembunyikan) dan baladah (bodoh)
E. Hikmah Iman Kepada Rasul
Salah seorang Mufti terkenal di Saudi Arabia Syekh Muhammad bin Salih Al-Usaimin dalam buku kecilnya Nuzbah fiil aqiidah atau prinsip-prinsip akidah, mengemukakan hikmah dan faidah iman kepada Rasul-rasul Allah seperti dibawah ini :
1. Rahmat dan Perhatian Allah
Dengan mengikuti ajaran-ajaran rasulullah umat manusia mengetahui akan kasih sayang dan perhatian Allah kepada mereka sangat besar. Allah mengutus rasul untuk memberi petunjuk mereka kepada jalan yang seharusnya ditempuh umat manusia kedalam hidupnya . Rasul menjelaskan bagaimana seharusnya mereka taat dan beribadah kepada Allah swt. Karena akal manusia tidak akan mampu sampai kepadaNya.
2. Syukur kepada Allah
Dengan memahami poin yang pertama tadi kita menyadari bahwa sebagaimanusia kita wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmatnya yang tidak terhitung banyak dan tidak terukur kwalitasnya.
3. Cinta dan Mengagungkan Rasul-rasul
Sebagai mana yang telah disebutkan bahwa peranan dan tugas-tugas rasul yaitu melaksanakan ibadah, mematuhi perintah Allah, menyampaikan perintah Allah dan memberikan nasiahat kepada umatnya. Dengan demikian ajaran rasul menuntut, agar umat manusia mencintai, menghormati dan mengagungkan rasul yang menjadi panutannya. Khusus tentang mencintai Rasul Allah berfirman
قُلْ اِنْكُنْتُمْ تُحِبذُوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
Artinya : Katakanlah Muhammad, jika kamu mencintai Allah ikutilah dan cintailah saya niscaya akan dicintai-Nya dan dosanya akan diampuni-Nya.
(QS. Al-Imran . 31)

BAB III
KESIMPULAN

Menurut bahasa nabi berarti juru berita, sedeangkan menurut syara' nabi adalah insane uhiaya ilaihi bisyar'in wala yu'maru bitablighihi artinya "manusia yang diwahyukan syariat kepadanya dan tidak diperintahkan untuk menyampaikan (kepada umat manusia). Adapun Rasul menurut bahasa artinya utusan atau yang diutus, sedangkan menurut syara' Rasul adalah insane uhia ilaihi bisyar'in wayu'maru bitablighihi Yaitu manusia yang diwahyukan syari'at kepadanya dan diperintahkan untuk menyampaikannya (kepada umat manusia).
Rasul menurut Istialah adalah laki-laki merdeka pilihan yang diberitahu oleh Allah tentang agama dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang yang belum mengetahuinya atau orang yang menyalahinya. Adapun nabi menurut istilah adalah Laki-laki ilihan yang merdeka yang diberitahu oleh Allah tentang syare'at yang lalu yang diajarkan oleh para pemiliknya yang ada disekitarnya.
Sifat-sifat Rasulullah maksudnya adalah sifat-sifat yang ada pada rasul sebagai pembeda dengan yang bukan rasul. Sifat ini selanjutnya ditunjukan oleh rasulullah dalam ucapan dan perbuatannya dan berfungsi selain menjadi daya tarik dalam rangka mensukseskan dakwahnya juga agar dijadikan contoh bagi para pengikutnya. Secara garis besar sifat-sifat yang wajib bagi para rasul itu ada empat yaitu shidiq, amanah , tabligh dan fathanah.
Adapun hikmah beriman kepada rasul diantaranya ilah kita akan merasakan betapa besarnya rahmat dan perhatian Allah kepada kita semua sehingga kita bersyukur kepada Allah dan sebagai tanda syukur kita tersebut kita melaksanakan ajaran dan menteladaninya dalam kehidupan sehari-hari serta mencintainya.

DAFTAR PUSTAKA

 Nata, Abbudin. Materi pokok aqidah Modul 1-18. Jakarta : Departemen Agama 1999
 Sabiq, Sayid, Aqidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman. Bandung : CV. Diponegoro. 1978
 Asmaran,As. Pengantar studi Akhlak. Jakarta : Rajawali Pers cet.ke 1 tahun 1992
 Nasution, Harun. Teologi Islam Aliran-aliran sejarah, analisa dan Perbandingan. Jakarta : Universitas Indonesia 1986
 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemahannya, Semarang :Tanjung Mas Inti, 1992

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar