Senin, 31 Januari 2011

Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak di MTs ( Iman Kepada Allah )

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebagai disiplin ilmu keislaman yang berdiri sendiri, Akidah Islamiyah memiliki pengertian, dasar, dan tujuan yang membedakan dengan disiplin ilmu keislaman lainnya.
Sebagai calon guru PAI, tentunya kita harus memahami dan mengerti secara tepat pengertian, dasar dan tujuan mempelajari Ilmu Aqidah. Hal ini selain berguna untuk menambah bekal dan wawasan kita sebagai calon guru, juga insyaallah akan memperkuat keimanan kita terhadap Allah SWT sehingga setiap gerak dan perilaku kita mencerminkan
B. Rumusan dan Batasan Masalah
Agar pembahasan dalam makalah ini lebih terarah, kami coba rumuskan beberapa pokok bahasan yang akan kami bahas dalam makalah ini.
Makalah ini secara garis besar terdiri dari tiga pokok bahasan dan masing-masing bahasan akan kami sajikan dalam satu makalah dan dipresentasikan selama tiga kali tatap muka. Adapun tiga pokok bahasan yang akan kami sajikan diantaranya ialah :
1. Iman Kepada Allah,
2. Iman Kepada Rasulullah,
3. Iman kepada hari Akhir
Ketiga pokok bahasan tersebut kami pilih sesuai dengan kesepakatan diskusi kelas dan berdasarkan pertimbangan serta anjuran dari dosen pengampu mata kuliah "Pendidikan Agama Islam Luar Sekolah"
BAB II
IMAN KEPADA ALLAH

A. Pengertian Iman Kepada Allah
Iman secara bahasa berasal dari bahasa Arab, amana – yu'minu – imanan yang artinya percaya. Kata iman selanjutnya menjadi bahasa Indonesia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, W.J.S. Poerwadanita mengartikan iman sebagai berikut : 1. Keimanan (yang berkaitan dengan agama) ; yakin percaya kepada Allah. 2. Ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin.
Adapun iman dari segi istilah telah banyak dikemukakan oleh para ahli. Yusuf Al-Qadrawi misalnya mengatakan, bahwa iman adalah kepercayaan yang meresap kedalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Jadi iman bukanlah hanya sekedar ucapan lidah, bukan hanya perbuatan dan bukan pula hanya merupakan pengetahuan tentang rukun iman dan hal-hal lain yang perlu diimani seperti kehidupan diakhirat, alam ghaib dan sebagainya.
Pengertian tersebut sejalan pula dengan sabda nabi,
اَلإِيْمَانُ تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ وَ قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَ عَمَلُ بِلأَرْكَانِ
Artinya : Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan (H.R Al-Thabrani)
Dalam ungkapan lain yang hampir bersamaan dengan bunyi hadits tersebut, iman dikatan sebagai berikut :
قَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَ تَصْدِيْقٌ بِالْقَلْبِ وَ عَمَلٌ بِالأرْكَانِ
Artinya : Mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengerjakan dengan segenap anggota badan.
Sementara itu Sayid Sabiq dalam bukunya Akidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman mengatakan, bahwamenurutnya pengertian iman dan aqidah itu tersusun dari enam perkara, yaitu ma'rifat kepada Allah, ma'rifat dengan alam yang ada dibalik alam semesta, ma'rifat dengan kitab-kitab Allah, ma'rifat dengan nabi-nabi serta rasul-rasul, ma'rifat dengan hari akhir dan peristiwa-peristiwa yang terjadi disaat itu, dan ma'rifat kepada takdir (kada dan kadar)
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat diketahui bahwa iman menurut istilah terdiri dari tiga unsur yakni unsur keyakinan atau kepercayaan dalam hati, unsur ucapan yang mengakui terhadap segenap yang harus diimani menurut Allah dan Rasul-Nya, dan melaksanakan segala yang dipercayainya itu dengan mengerahkan segenap anggota badan.
Ketiga unsur iman tersebut harus bersatu padu, dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Karena pemisahan terhadap unsur-unsur iman akan berakibat timbulnya paham yang keliru. Seperti halnya orang yang mengucapkan iman dengan lisannya dan mengamalkan dengan segenap perbuatan anggota badan, tetapi tidak disertai dengan pengakuan didalam hati, tidaklah disebut beriman. Orang yang demikian dalam Al-Qur'an disebut orang munafik. Firman Allah swt.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ امَنَّا بِاللهِ وَ بِلْيَوْمِلأخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِيْنَ [8] يُخَادِعُوْنَ اللهَ وَ الَّذِيْنَ امَنُوا وَمَايَخْدَعُوْنَ اِلاَّ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ [9]
Artinya : Dan diantara manusia itu ada yang mengatakan : "kami beriman kepada Allah dan hari akhir", sedang yang sebenarnya (dalam hati)mereka tidaklah termasuk orang-orang mukmin. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi yang sebenarnya mereka menipu dirinya sendiri dan mereka tidak sadar. (QS. Al-Baqarah, 2: 8-9)
Adapun makna iman kepada Allah juga tidak hanya sekedar percaya dan pengakuan akan adanya Allah, akan tetapi mencakup dimensi yang lebih luas yaitu pengucapan dan perbuatan. Atau dengan kata lain Percaya kepada Allah yang diyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan(Syahadatain) serta diimplementasikan dengan amal perbuatan sebagai cerminan bahwa seseorang telah beriman kepada Allah. Mungkin pernyataan tersebut lebih tepat untuk makna iman kepada Allah.
Imam Abnu Hibban dan Al-Hakim meriwayatkan dari Said Al-Khudri dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda :
قَالَ مُوْسَى : يَا رَبِّى عَلِمْنِى شَيْئًا اَذْكُرُكَ وَاَدْعُوْكَ بِهِز قَالَ: قُلْ يَامُوْسَى: "لآاِله اِلاَّ الله" قَالَ: يَا رَبِّ، كُلَّ عِبَادِكَ يَقُوْلُوْنَ هذَا، قَالَ: يَامُوْسَى: لَوْ اَنَّ السَّمَواتِ السَّبْعَ وَعَامِرَهُنَّ غَيْرِيْ وَالأرْضِيْنَ السَّبْعَ فِى كِفَّةٍ وَلآإله الاّ اللهَ فِى كِفَّةٍ قَالَتْ بِهِنَّ لآإله الاّ اللهُ
Musa berkata : "Wahai Tuhanku ajarkanlah kepadaku sesuatu yang dapat kupergunakan untuk memuji dan menyebut-Mu". Allah menjawab :"Wahai Musa, ucapkanlah Laaillaha illallah" ! Musa berkata :" WAhai Tuhanku semua hamba-Mu telah mengucapkannya". Allah menjawab :"Tidak apa-apa sekiranya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi beserta isinya, selain Aku, diletakan pada satu sisi timbangan dan pada sisi timbangan lainnya diletakan kalimat Laailaha illallah, niscaya timbangan yang berisi kalimat lailahaillah akan lebih berat dibanding si8sitimbangan yang satunya lagi" (Muhammad Thahir Badri, 1984 :110)
Kalimat laaillaha illallahu adalah suatu pernyataan tentang keberadaan Allah Yang Maha Esa; Tiada Tuhan selain Dia. Merupakan bagian dari kalimat syahadatain yang harus diucapkan oleh seseorang yang akan masuk dan memeluk agama Islam. Bentuk pernyataan pengakuan terhadap Allah berimplikasi pada pengakuan-pengakuan lainnya yang berhubungan dengan-Nya, seperti Dzat Allah, sifat-sifat Allah, kehendak Allah, Perbuatan Allah, para nabi dan Rasul Allah, hari kiamat, serta surga dan neraka. Hal tersebut merupakan reaksi dari Tauhid (Keesaan Allah) yang menjadi inti ajaran Islam. Oleh karena itu pengakuan terhadap keberadaan Allah berarti menolak keberadaan Tuhan-tuhan lainnya yang di percayai oleh para pengaut agama-agama selain Islam.
B. Kemustahilan Menemukan Dzat Allah
Allah Maha Esa baik dalam Dzat, sifat maupun perbuatan-Nya. Esa dalam dzat artinya Allah itu tidak tersusun dari beberapa bagian yang terpotong-potong dan Dia tidak mempunyai sekutu. Esa dalam sifat berarti tak seorang pun yang memiliki sifat-sifat seperti sifat yang dimiliki Allah. Dan Esa dalam perbuatan ialah tak ada seorang pun yang mampu mengerjakan sesuatu yang menyerupai perbuatan Allah.
Allah dengan sifat rahman dan rahim-Nya, telah membekali manusia dengan akal dan pikiran untuk digunakan dalam menjalankan kehidupan. Akal pikiran tersebut merupakan cirri keistimewaan manusia sekaligus faktor pembeda manusia dengan mahluk lainnya. Manusia dapat mencapai taraf kehidupan yang mulia melalui akal pikirannya; sebaliknya manusia pun dapat terjerumus dalam kehidupan yang hina melalui akalnya. Akal sekalipun telah dipergunakan dengan sungguh-sungguh, keberadaannya tetap dalam ruang lingkup yang terbatas. Artinya ada sejumlah persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh akal. Salah satu persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh akal adalah masalah dzat Allah.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an
لاَ تُدْرِكْهُ الأَبْصَرُ وَهُوَ يُدْرِكُ الأبْصَارُوَهُوَ لَطِيْفُ الْخَبِيْرُ
Artinya : Allah tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, seedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui (QS. Al-An'am : 103)
Allah menunjukan kesempurnaan-Nya melalui sifat-sifat-Nya. Secara harfiah sifat adalah sewsuatu yang melekat pada dzat, seperti sifat hitam tang melekat pada kopi, atau sifat putih yang melekat pada kapur. Beriman kepada Allah dapat dilakukan antara lain dengan pemahaman terhadap sifat-sifat-Nya. Para ahli ilmu Tauhid dari kalangan As'ariyah dan Maturidiyah membagi sifat Allah dari segi kelayakannya kepada tiga bagian, yakni : sifat yang wajib, mustahil dan jaiz.
Dalam pada itu sifat-sifat yang wajib bagi Allah yaitu sifat-sifat yang harus ada pada Allah yang menunjukan kesempurnaan-Nya. Melalui sifat-sifat-Nya inilah Allah memperkenalkan diri-Nya kepada mahluk, dan bukan melalui dzat-Nya, sebab Allah tidak dapat dibayangkan bentuk, rupa dan cirri-ciri-Nya. Nabi bersabda.
تَفَكَّرُوْا فِى خَلْقِ اللهِ وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِى ذَاتِ اللهِ
Artinya : "Berfikirlah kamu sekalian pada ciptaan Allah, dan janganlah berfikir tentang dzat Allah (H. R. Bukhari)
Demikian pula sifat-sifat-Nya tidak dapat disamakan dengan sifat-sifat yang ada pada mahluk-Nya. Tuhan misalnya mempunyai sifat Rahman (Maha Pengasih) dan Rahim (Maha Penyayang). Manusia juga mempunyai sifat-sifat yang demikian itu. Namun sifat-sifat manusia yang demikian itu terbatas dan tidak mutlak.
Sifat-sifat yang wajib bagi Allah itu ada 20 sifat yang dilihat dari segi fungsi dan kedudukannya dapat dikelompokan menjadi 4 bagian, yaitu :
NO SIFAT JUMLAH KETERANGAN
1 Nafsiah 1 Wujud
2 Salbiah 5 Qidam,Baqa, Mukhalafatu lil hawaditsi , Qiyamuhu binafsisi, Wahdaniyah
3 Ma'ani 7 Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama', Bashar, Kalam
4 Ma'nawiyah 7 Qadiran, Muridan, Aliman, Hayyan, Sami'an, Bashiran, Mutakalliman
1. Sifat Nafsiah, ialah sifat yang tidak lain dari diriatau dzat Tuhan sendiri. Yang termasuk kedalam sifat ini hanya satu, yaitu Sifat Wujud yang artinya Ada. Wujud Allah itu tidak lain dari dzat-Nya atau diri-Nya . Dia ada selamanya, tidak didahului oleh ketiadaan, atau diakhiri oleh ketiadaan. Ia ada sejak azali dan akan terus ada. Ia ada bukan karena ada yang menciptakan-Nya.
2. Sifat Salbiah, ialah sifat yang meniadakan sifat lainnya, yaitu jika sifat itu ada maka dengan sendirinya sifat yang sebagai lawannya tidak ada.
3. Sifat Ma'ani artinya makna-makna. Maksudnya Allah memiliki sifat-sifat berupa makna-makna yang lain dari makna zat-Nya.
4. Sifat Ma'nawiyah berarti sesuatu yang bersifat makna. Adanya sifat maknawiyah inilah merupakan konsekuensi logis dari adanya sifat ma'ani.
Mustahil berasal dari bahasa arabyaitu Istahala,yastahilu,istihalan yang artinya menurut akal tidak dapat diterima adanya. Adapun yang dimaksud dengan sifat-sifat mustahil bagi Allah adalah sifat sifat yang menurut akal tidak mungkin ada pada Tuhan.
Sifat-sfat yang mustahil ini jumlahnya ada 20, sama dengan jumlah sifat wajib bagi Allah. Karena sifat yang mustahil ini pada hakekatnya adlah merupakan dari lawan sifat-sifat yang wajib bagi Allah. Dibawah ini adalah sifat-sifat wajib dan mustahil bagi Allah.
1) Wujud : Maha Ada >< Adam : Tidak ada 2) Qidam : Terdahulu >< Huduts : Baru 3) Baqa : Kekal >< Fana : Rusak 4) Mukhalafatulilhawaditsi : tidak menyerupai sesuatu yang baru >< Mumatsalatulihawaditsi : menyerupai sesuatu yang baru 5) Qiyamuhu Binafsihi : Tidak membutuhkan apa pun >< Ihtiyaju Lighairihi : Butuh kepada selain dari-Nya 6) Wahdaniyah : Maha Esa >< Ta'addud : Terbilang atau lebih dari satu 7) Qudrat : Maha Kuasa >< 'Ajz : Lemah 8) Iradat : Maha berkehendak >< Karahah : terpaksa 9) Ilmu : Maha mengetahui >< Jahl : Bodoh 10) Hayat : Maha Hidup >< Maut : Mati 11) Sama' : Maha Mendengar >< Shamam : Tuli 12) Bashar : Maha melihat >< Umyun : Buta 13) Kalam : Maha berbicara >< Bukmun : Bisu 14) Qadiran : Yang Maha Kuasa >< 'Ajizan : Yang lemah 15) Muridan : Yang Maha berkehendak >< Mukrohan : terpaksa 16) Aliman : Yang Maha Mengetahui >< Jahilan : Yang bodoh 17) Hayyan : Yang Maha HIdup >< Mayyitan : yang mati 18) Sami'an : Yang Maha Mendengar >< ashammu : yang tuli 19) Bashiran : Yang Maha melihat >< A'ma : yang buta 20) Mutakaliman : Yang Maha Berbicara >< abkam >< : yang bisu
Kata jaiz berasal dari bahasa arab yang artinya boleh. Sedangkan yang dimaksud jaiz dalam pembahasan ini adalah adalah sifat yang menurut pandangan akal boleh ada dan boleh tidak ada pada Allah SWT. Dengan demikian sifat jaiz menunjukan pada sesuatu pada Allah yang boleh melakukannya atau tidak melakukannya, atau boleh bersifat demikian dan boleh pula tidak bersifat demikian.
Dengan demikian semua perbuatan Allah bukan merupakan kewajiban. Jika demikian itu merupakan kewajiban, berarti adakekuasaan lain yang lebih tinggi dari Tuhan. Dan terdapat kesan seolah-olah tidak bebas melakukan kehendak-Nya. Sifat yang jaiz bagi Allah hanya satu yaitu membuat atau tidak membuat segala sesuatu yang mungkin terjadi (Fi'lu kulli mukminin au tarkuhu)
Namun demikian kebebasan Allah dalam menciptakan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya, bukan berarti Allah boleh melakukan yang sia-sia atau yang tidak ada manfaatnya. Semua yang dicptakan tuhan selalu mengandung manfaat bagi manusia. Allah berfirman
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya : Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka (Q.S Al-Al Imran, 3: 191)
Namun demikian, apa saja yang akan dicptakan Tuhan, dan apa saja manfaat yang ditentukan-Nya juga bergantung pada kehendak Tuhan sendiri. Firman Allah swt
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
Artinya : Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih (QS. Al-Qashash : 28-29)
C. Argumen Keberadaan Allah
Ada tiga teori yang menerangkan asal kejadian alam semesta yang mendukung keberadaan Tuhan. Pertama, Paham yang mengatakan bahwa alam semesta ini ada dari tidak ada (creation ex nihilo) terjadi dengan sendirinya. Kedua, paham yang mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari sel ( jauhar) yang merupakan inti. Ketiga, Paham yang mengatakan bahwa ala mini ada yang menciptakan.
Teori pertama nampaknya sudah sangat tidak relevan. Ia dapat ditolak dengan teori sebab akibat (Causality theory). Menurut teori kausalitas, adanya sesuatu itu disebabkan dengan adanya sesuatu yang lain. Dengan demikian, menurut teori kausalitas alam semesta ini tidak terjadi dengan sendirinya melainkan melalui proses penciptaan, yang karenanya tentu ada yang menciptakan.
Terhadap teori kedua yang mengatakan bahwa alam semesta ini berasal dari sel, Sayyid Sabiq (1974 : 63) melihatnya sebagai teori yang lebih sesat daripada teori pertama. Menurutnya sel tidak akan mampu menyusun dan memperindah sesuatu seperti yang terjadi pada struktur alam semesta, umpamanya aspek gender dan tata surya.
Adapun teori ketiga yang menyatakan bahwa alam semesta ada karena ada yang menciptakan adalah teori yang bersesuaian dengan pemikiran akal yang sehat. Oleh karena itu secara Aql maupun Naql dapat diterima. Masalah yang kemudian muncul dari teori yang ketiga ini ialah. Siapakah yang menciptakan alam semesta ini ?. Menurut doktrin Islam yang hal ini menjadi akidah dan keyakinan umat Islam, pencipta alam semesta ini adalah Tuhan. Jawaban itu membawa pada kesimpulan dan pengertian bahwa Tuhan itu ada.

D. Sikap Yang Mencerminkan Keimanan Kepada Allah
Dari makna iman kepada Allah, bahwa Iman kepada Allah tidak hanya sekedar percaya akan keberadaan Allah sebagai Tuhan, tetapi harus diimplementasikan dalam amal perbuatan berupa ibadah, maka implementasi dari iman kepada Allah itu termasuk kedalam sifat yang mencerminkan bahwa kita telah beriman kepada Allah. Oleh karena itu, segala sesuatu amal perbuatan ibadah yang kita lakukan ini harus berdasarkan sumber dasar hukum yaitu Al-Qur'an dan Assunah.
Iman kepada Allah adlah doktrin yang pertama dan utama dalam Islam yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, yang nantinya berimplikasi pada doktrin keimnanan yang lainnya seperti Iman kepda malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-Rasul Allah,hari kiamat dan iman kepada qadha dan qadar yang mana semua itu tertuang dalam rukun iman
Sikap yang mencerminkan bahwa kita beriman kepada Allah juga bisa diartikan dalam bentuk ketakwaan kita kepada Allah. Taqwa dalam arti melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya


BAB III
KESIMPULAN

Iman kepada Allah adalah percaya dan yakin atas keberadaan Allah sebagai Tuhan pencipta alam semesta beserta isinya, dan mengimplementasikannya dengan amal perbuatan sehari-hari. Atau dengan kata lain Percaya kepada Allah yang diyakini dengan hati dan diucapkan dengan lisan(Syahadatain) serta diimplementasikan dengan amal perbuatan sebagai cerminan bahwa seseorang telah beriman kepada Allah.
Iman kepada Allah merupakan doktrin utama dalam Islam yang nanti pada akhirnya berimplikasi pada doktrin-doktrin keimanan dalam Islam lainnya seperti yang tertuang dalam rukun iman.
Alasan (logika)sederhana tentang keberadaan Allah yaitu dengan terciptanya alam semesta beserta isinya, dimana alam ini bergerak secara teratur. Dan menggerakan alam ini tiada lain melainkan Allah.
Manusia wajib beriman kepada Allah akan tetapi manusia tidak wajib memikirkan tentang bentuk (dzat) Allah. Manusia hanya dapat memikirkan tentang kekuasaan Allah berupa ciptaan-Nya. Karena ilmu manusia tidaakkn sanggup untuk memikirkan dzat Allah.
Sikap penghayatan bahwa kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu dalam bentuk ketakwaan kita kepada Allah. Ibadah yang kita lakukan sehari-hari dengan ikhlas juga termasuk kedalam sikap mencerminkan bahwa kita beriman kepada Allah. Adapun bentuk ibadah-ibadah tersebut yaitu diantaranya yang tertuang dalam rukun Islam.

DAFTAR PUSTAKA

 Nata, Abuddin. Akidah akhlak-I ; Modul 1-12 program penyetaraan guru PAI SMP. Jakarta : Departemen Agama Pusat. 1996
 Abdul Hakim, Atang dan Mubarok, Jaih. Metodologi Studi Islam. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2007
 Sabiq, Sayd. Akidah Islam Pola Hidup Manusia Beriman. BAndung : Dar Al-Kitab Al-Haditsah.
 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemahannya, Semarang :Tanjung Mas Inti, 1992.
 Shaleh, Komarudin dkk. Asbabunnuzul .BAndung : CV. Diponegoro. 1984

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar